Minggu, 11 April 2010

Mozaik Ujian Nasional (1)

Para pakar pendidikan kita sudah demikian hebatnya, rancangan demi rancangan telah dibuat. Namun demikian hasilnya masih belum memuaskan, apakah penyebabnya? Apakah para pakar kurang pintar, ataukah para pelaksana lebih pintar (menyiasati) ?


Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20  Tahun 2007  tentang Standar Penilaian Pendidikan diatur tiga tahap penilaian yaitu:

(1) Penilaian oleh Pendidik

(2) Penilaian oleh Satuan Pendidikan

(3) Penilaian oleh Pemerintah.

Tetapi dalam pelaksanaannya terdapat beraneka macam sikap dan tindakan dari berbagai kalangan, baik itu siswa, guru, kepala sekolah, bahkan pejabat terkait.


Ujian Nasional adalah salah satu cara penilaian dari pemerintah. Hal ini sangat lumrah. Tetapi penyambutan dari Ujian Nasional ini sangat luar biasa, ada yang menolak, ada yang menghalalkan dengan segala cara, ada yang menyiapkan dengan sungguh-sungguh dengan kekuatan yang diforsir, dan ada juga yang biasa-biasa saja. Kenyataan-kenyataan inilah yang membuat para pakar pendidikan berfikir seribu kali jika melihat fakta dilapangan. Orang pintar melawan orang pintar. Yang satu pintar menyusun teori, yang lain pintar menyiasati.


Jika menteri memberikan target maka gubernur dan jajarannya tentu akan membuat siasat yang melibatkan bupati/walikota dan jajarannya. Demikian juga jika kepala dinas pendidikan diberi target tentu akan membuat siasat yang melibatkan kabid, pengawas dan kepala sekolah. Kepala sekolah diberi target juga akan membuat siasat yang melibatkan guru-guru. Jika guru diberi target juga akan membuat siasat yang melibatkan siswa atau bahkan siasat untuk menyelamatkan diri. Jika mereka punya rasa senasip tentunya akan menjalin suatu kerjasama yang sekiranya bisa menyelesaikan masalah mereka.


Kalau sekarang ini nilai kejujuran diangkat tinggi, itu sangat bagus. Namun bagaimana pelaksanaannya, bisakah dinilai, adakah suatu penghargaan terhadap kejujuran? Kelompok pro kejujuran sangat mendambakan suksesnya pendidikan, tetapi kelompok yang menomorsatukan jabatan, ketenaran dan silau oleh harta maka menempatkan kejujuran pada posisi nomor dua. Selamat berjuang team sukses pendidikan, semoga secapatnya mendapatkan hasil yang diharapkan. Lindungilah kami dari pepatah "jujur ajur", dan bawalah kami pada pepatah "jujur mujur".


Silahkan baca juga:

http://berita.liputan6.com/hukrim/201004/270493/Kepala.Sekolah.Dalangi.Perjokian.UN.SMP


http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=33421:kunci-jawaban-un-beredar-di-kelas-kepala-sekolah-diamankan&catid=25:metro&Itemid=53

www.tribun-timur.com/.../Pakta-Kejujuran-UN-Antara-Data-dan-Fakta


http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/20/13255542/UN..Kepala.Sekolah.dan.Para.Guru.Ikut.Deg.degan


http://www.antaranews.com/berita/1267595496/kepala-sekolah-disumpah-untuk-jujur-dalam-un

Tidak ada komentar:

Posting Komentar