Selasa, 15 November 2011, pukul 05.15 berangkat dari rumah, 07.00 sampai di sekolah. Pukul 13.00 berangkat ke Suatu SD menghadiri rapat persiapan HUT GURU dan HUT suatu Organisasi Guru cabang suatu kecamatan. Pkl 15.30 rapat selesai hujan pun reda. Setelah perjalanan 8 km tepatnya di desa kedung rejo, hujanpun luar biasa, terpaksa minggir beli 2 buah tas kresek. Tas sudah berisi Laptop dan beberapa buku serta dokumen lain. Masih ada lembar soal-soal, lembar jawab hasil kerja siswa yang tidak muat di tas, terpaksa masuk tas kresek dan menggantung di sepeda. Berhubung hujan terpaksa beli 2 tas kresek lagi.
Kedua sepatu dan kaos kaki dilepas dan dimasukkan tas kresek. Tas kresek yang berisi sepatu bersama dengan kresek yang berisi lembar soal dan lembar jawaban siswa dimasukkan k etas kresek lagi. Tas kresek tersebut ditalikan pada ikat pinggang bagian depan. Jok sepeda mulai dibuka, diambillah jas hujan. Jas hujan dipakai, celana disingsingkan, kaki tidak bersepatu. Perjalanan pulang kembali dilanjutkan.
Dalam perjalanan teringat akan jalannya rapat pengurus suatu Organisasi Guru. Ternyata ada suatu karakter bahwa yang “enak” lebih diutamakan dari pada yang “benar”. Salah satu contoh adalah penyebutan Upacara dengan Apel. Seharusnya jika tanpa pengibaran bendera cukup disebut Apel, tetapi katanya kurang “enak” didengar, diingatkan bahwa ada Tata Upacara Militer (TUM), ada Tata Upacara Sipil (TUS) mereka bilang yang luwes saja, gak usah kaku-kaku. Apalah daya si pendatang yang tak punya kuasa, akhirnya larut untuk menyelami kondisi medan yang lebih mendalam.
Sejalan dengan laju sepeda motor yang pelan, pikiranpun terus berjalan. Teringat akan teman-teman guru yang sulit berubah, lebih cenderung untuk melihat masa lalu, maksudnya yang lalu begini tidak masalah, kenapa harus pusing-pusing, harus capek-capek, merepotkan saja. Sedangkan para konseptor pendidikan di Indonesia selalu melihat ke depan, melihat pendidikan di Negara-negara tetangga. Merancang sebisa mungkin untuk secepatnya menyusul agar bisa sejajar. Aneka peraturan pun diterbitkan, aneka strategi dilaksanakan, namun mengapa hasilnya selalu mengecewakan?
Pikiranpun terus berjalan, ingat akan berita-berita, curhat dari teman-teman diberbagai daerah. Ternyata instansi pendidikan dalam arti structural pendidikan dalam menjalankan tugas bukanya ikut menyamakan pandangan, tetapi mengambil arah yang lain, yaitu tengok kiri tengok kanan. Masih mikir menguntungkan atau tidak. Jika posisi aman maka akan santai-santai saja. Jika merasa tidak aman akan bekerja dengan sangat giat. Selalu mencatat siapa yang telah dikalahkan dan siapa yang telah mengalahkan. Pendidikan ibarat suatu perlombaan. Jika menang seolah-telah telah berbuat banyak dan berhasil dalam memimpin. Jika kalah maka vonis akan ditujukan pada yang dipimpin.
Dari gambaran di atas bisa saya ilustrasikan seperti mobil yang sedang berjalan. Para konseptor pendidikan selalu melihat ke depan, melihat peluang yang ada untuk berjalan lebih cepat agar bisa sejajar dengan kendaraan lainnya. Guru sebagian besar selalu melihat belakang, dulu seperti tidak ada masalah. Kalau sekarang seperti ini, ini sudah merupakan peningkatan yang sudah bagus, jangan dipercepat lagi, membuat guru-guru tambah semakin pusing. Sedangkan Instansi structural pendidikan menengok ke kanan, ternyata ada yang mendahului mobil kita, harus kita kejar, kalau gak bisa mengejar nanti saya hokum, kalau perlu saya pecat. Tengok kiri, o…. ternyata kita masih lebih cepat dari mobil itu, tenang saja gak usah cepat-cepat, itu ada warung, berhenti dulu, kita makan-makan, itu ada kolam renang, berhenti dulu kita renang dulu.
Inilah hasil pengamatan dari cerita, berita, curhat dari teman-teman semua. Kami hanya punya mata, mulutpun terkunci. Kami punya telinga, tanganpun terbelenggu, kami punya kaki, arahpun kesana dan kemari. Yang tersisa hanya satu cita-cita majulah Indonesia, dan hanya satu harapan yaitu kekompakan yang disana tidak ada saling iri, tidak ada calo dan tidak ada saling membunuh.
Ini bukan vonis, bukan keluh kesah, bukan ketidakpuasan, tetapi sebuah angan-angan. Semoga angan-angan menjadi kenyataan. Hanya Allahlah tempat untuk memohon, semoga terkabulkan, amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar